JellyPages.com

Senin, 30 Juli 2012

18 Ton Kopi Priangan Diekspor ke Belanda

Metrotvnews.com, Bandung: PT Morning Glory, produsen dan pengolah kopi dari Jawa Barat yang terkenal dengan Kopi Priangan atau Java Preanger Coffee akan mengekspor kopi ke Belanda satu kontainer.

"Tahun ini kita ekspor ke Belanda sebanyak 18 ton," kata pemilik dan pengolah kopi PT Morning Glory Coffee International, Nathanael Charis, seusai memberikan penghargaan kepada lima petani dan pengolah kopi, di Bandung, Jawa Barat, Ahad (29/7).

Nathanael mengatakan, ekspor kopi Java Preanger yang dilakukan oleh perusahaannya dilakukan sejak 2009. "Tahun 2009, kami berhasil ekspor pertama kalinya itu ke Australia, sebanyak satu kontainer dan tahun 2011 juga akan diekspor ke Australia lagi, namun tidak jadi karena gagal panen akibat hujan," ujarnya.

Ia menuturkan, sejak berabad-abad yang lalu, kopi asal Jawa Barat tersebut selalu menjadi komoditas paling ditunggu di dunia. Hal ini, kata dia, terbukti ketika setiap kapal laut VOC berlabuh ke Pulau Jawa, kopi dari Priangan menjadi bawaan utamanya selain rempah-rempah dan lainnya.

"Dari sanalah kopi Priangan yang kemudian dikenal di Eropa dan seantero dunia sebagai Java Coffee atau Java Preanger Coffee," kata dia.

Menurut dia, kopi Priangan banyak disukai karena punya rasa yang disebut mild oleh para penikmat kopi. "Akan tetapi, pengiriman kopi Priangan tersebut terhenti pada 1924 karena masalah hama karat daun yang menyerang seluruh tanaman kopi di Jabar hingga musnah," kata Nael.

Ia menuturkan, pada 1997 setelah serangan hama karat daun, komoditas kopi kembali ditanam di Jawa Barat, namun memakai benih kopi jenis arabica dari Aceh Tengah. "Hingga saat itu orang mengenalnya dengan sebutan sebagai kopi Ateng, kependekan dari Aceh Tengah," kata dia.

Dikatakan Nathanael, karena kopi tersebut diekspor dalam bentuk raw material ke beberapa negara, sehingga terjadi kesenjangan ekonomi antara harga yang dibeli dari petani dan harga di pasaran internasional.

Berawal dari sanalah, lanjut dia, pihaknya selaku roaster coffee berupaya memperpendek jarak itu agar petani dan pengolah di Jawa Barat, bisa menikmati hasil yang lebih besar.

"Dan satu-satunya cara ialah membuat brand Java Preanger Coffee yang memiliki standar internasional," katanya.

Ia mengaku berusaha mendekati para petani dan pengolah kopi tradisional di Jabar karena ingin mengedukasi mereka agar produk kopinya bisa langsung diterima pasar internasional.

"Namun pada mulanya tidak dianggap. Mungkin melihat siapa saya. Tapi syukurnya, Dinas Perkebunan Provinsi Jabar mau memfasilitasi pertemuan itu di Garut pada tanggal 13 Mei 2008," katanya.

Pada pertemuan tersebut ada 150 petani dan pengolah kopi Jabar yang datang dan juga didatangkan pembeli dari Australia yaitu Toby Smith yang menjelaskan tentang pasar kopi internasional.(Ant/BEY)

Sumber : Metrotvnews.com

Senin, 09 Juli 2012

Rupiah Hari Ini Berpotensi Melemah


 
Jakarta,Nilai tukar rupiah hari ini berpotensi melemah di kisaran Rp 9.400 sampai dengan Rp 9.430 per dolar Amerika Serikat.
Lana Soelistianingsih, Kepala Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, mengatakan beberapa isu hari ini yang berpotensi membuat rupiah melemah antara lain adanya pembayaran pokok dan bunga utang pemerintah yang biasanya jatuh tempo pada setiap triwulan.
»Posisi ini sebenarnya masih cukup untuk membiayai enam bulan impor, tetapi mengurangi keyakinan terhadap daya dukung rupiah,” kata Lana dalam analisis hariannya.
Jumat akhir pekan lalu, rupiah kembali ditutup melemah 24 poin (0,26 persen) ke 9.405 per dolar AS. Banyaknya sentimen negatif dari faktor eksternal membuat rupiah Jumat lalu ditransaksikan pada 9.390 hingga 9.414 per dolar AS. Rupiah sebenarnya sempat menguat hingga ke level 9.367 per dolar AS, tapi akhirnya rupiah kembali berada di atas level 9.400 per dolar AS.
Lana menambahkan, cadangan devisa berkurang US$ 5 miliar. Posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2012 turun US$ 5 miliar menjadi US$ 106,5 miliar dari Mei lalu sebesar US$ 111,5 miliar.
»Penurunan ini akibat intervensi Bank Indonesia menahan pelemahan rupiah selama bulan Juni karena penjualan aset rupiah oleh investor asing,” ujar dia.
Selain itu, menurut Lana, ditambah dengan berlanjutnya defisit pada neraca perdagangan pada Juni sehingga kemungkinan impor masih naik. Namun penerimaan ekspor melemah karena harga komoditas masih dalam tren turun pada Juni tersebut.
GRACE S GANDHI

sumber : TEMPO.CO 09/07/2012
http://id.berita.yahoo.com/rupiah-hari-ini-berpotensi-melemah-044602955--finance.html;_ylt=AgxaRTApizndCFfr_7X.8Av5h9l_;_ylu=X3oDMTQ3bjdsYjc4BG1pdANUb3BTdG9yeSBCaXNuaXNTRiBLZXVhbmdhblNTRgRwa2cDOWZiZDg3ZjQtNWI1ZC0zMWUyLWEzMTgtNTU1ZGZkNzUzY2UzBHBvcwM2BHNlYwN0b3Bfc3RvcnkEdmVyA2U1YmJiMDAxLWM5OGQtMTFlMS05ZTU2LTUwMjY2MTdkYWNlNg--;_ylg=X3oDMTF0dWw5OXU4BGludGwDaWQEbGFuZwNpZC1pZARwc3RhaWQDBHBzdGNhdANiaXNuaXN8a2V1YW5nYW4EcHQDc2VjdGlvbnM-;_ylv=3

Sabtu, 07 Juli 2012

BAB 12. Kebijakan Pemerintah


   1)    Kebijakan fiskal
     Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:
·         Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
·         Pola persebaran sumber daya
·         Distribusi pendapatan
     Pajak adalah Pungutan pemerintah kepada rakyat yang dapat dilakukan secara paksa atau sukarela dan hanya boleh dipunggut oleh petugas pajak, dimana pembayar akan mendapatka imbalan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pajak di Indonesia telah menjadi salah satu pendapatan terbesar bagi Negara kita. Pajak juga dapat menjadi alat pengendali masyarakat. Misalnya karena pemerintah ingin mengurangi penggunaan mobil agar tidak terjadi kemacetan, maka pemerintah menaikan pajak mobil atau memberi pajak yang tinggi sehingga pembelikan mobil berkurang. Pajak juga dapat meratakan hasil distribusi pendapatan masyarakat, dengan tarif progesif dimana tarif pajak akan semakin tinggi bila pendapatan semakin besar, pemerintah mengharapkan adanya kesenjangan antara masyarakat, sehingga tidak ada yang lebih kaya atau lebih miskin. Walaupun menurut saya itu tidak efektif, karena pada dunia rill dengan adanya pajak yang kaya tambah kaya dan yang miskin tambah miskin. Pajak yang diperoleh masyarakat digunakkan untuk mendanai pembangunan negara. Pendanaannya akan diatur dalam APBN. Sedikit Info untuk yang ingin belajar pajak harus terus diupdate, karena pajak itu sifatnya dinamis bukan statis jadi pajak akan terus berubah seiring dengan perkembangan jaman.

Pajak terdiri atas beberapa jenis:

1. Pajak Regresif: Pajak yang besar kecilnya nilai yang harus dibayarkan, ditetapkan  berbanding terbalik dengan besar pendapatan wajib pajak. Kebalikan pajak Progresif.
2. Pajak Sebanding: Pajak yang besar kecilnya sama untuk berbagai tingkat pendapatan.
3. Pajak Progresif: Pajak yang besar kecilnya ditetapkan searah dengan besarnya pendapatan wajib pajak, semakin tinggi pendapatan maka akan semakin besar pula pajak yang harus dibayarkan.

2. Kebijakan Fiskal dan Moneter Di Sektor Luar Negeri
Kebijakan sektor luar negeri berhubungan dengan pengaturan pemerintah terhadap bea cukai import dan eksport, Relasi dengan negara lain. Seperti pendapatan yang diperoleh masyarakat luar negeri dari indonesia demikian sebaliknya.
a)  Kebijakan fiskal dan pengaruhnya terhadap perekonomian

Kebijakan fiskal akan mempengaruhi perekonomian melalui penerimaan negara dan pengeluaran negara. Disamping pengaruh dari selisih antara penerimaan dan pengeluaran (defisit atau surplus), perekonomian juga dipengaruhi oleh jenis sumber penerimaan negara dan bentuk kegiatan yang dibiayai pengeluaran negara.
Di dalam perhitungan defisit atau surplus anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), perlu diperhatikan jenis-jenis penerimaan yang dapat dikategorikan sebagai penerimaan negara, dan jenis-jenis pengeluaran yang dapat dikategorikan sebagai pengeluaran negara.
Dari perhitungan penerimaan dan pengeluaran negara tersebut, akan diperoleh besarnya surplus atau defisit APBN. Dalam hal terdapat surplus dalam APBN, hal ini akan menimbulkan efek kontraksi dalam perekonomian, yang besarnya tergantung kepada besarnya surplus tersebut . Pada umumnya surplus tersebut dapat dipergunakan sebagai cadangan atau untuk membayar hutang pemerintah (prepayment).

Dalam hal terjadi defisit, maka defisit tersebut dapat dibayai dengan pinjaman luar negeri (official foreign borrowing) atau dengan pinjaman dalam negeri. Dengan demikian perlu ditegaskan bahwa penerbitan obligasi negara merupakan bagian dari pembiayaan defisit dalam negeri non-perbankan yang nantinya diharapkan dapat memainkan peranan yang lebih tinggi
Pada dasarnya defisit dalam APBN akan menimbulkan efek ekspansi dalam perekonomian. Dalam hal defisit APBN dibiayai dengan pinjaman luar negeri, maka hal ini tidak menimbulkan tekanan inflasi jika pinjaman luar negeri tersebut dipergunakan untuk membeli barang-barang impor, seperti halnya dengan sebagian besar pinjaman dari CGI selama ini. Akan tetapi bila pinjaman luar negeri tersebut dipergunakan untuk membeli barang dan jasa di dalam negeri, maka pembiayaan defisit dengan memakai pinjaman luar negeri tersebut akan menimbulkan tekanan inflasi. Dilain pihak, pembiayaan defisit APBN dengan penerbitan obligasi negara akan menambah jumlah uang yang beredar dan akan menimbulkan tekanan inflasi.
Adapun kinerja pemerintah dapat dilihat dari besarnya nilai lalu lintas moneter. Nilai lalu lintas moneter yang positif menunjukkan adanya cash inflow.

Kebijakan moneter dan pengaruhnya terhadap perekonomian

Pada dasarnya, kebijaksanaan moneter ditujukan agar likuiditas dalam perekonomian berada dalam jumlah yang “tepat” sehingga dapat melancarkan transaksi perdagangan tanpa menimbulkan tekanan inflasi. Umumnya pelaksanaan pengaturan jumlah likuiditas dalam perekonomian ini dilakukan oleh bank sentral, melalui berbagai instrumen , khususnya open market operations (OMOs).
Dalam melaksanakan OMO, pada umumnya bank sentral menjual atau membeli obligasi negara jangka panjang. Jika likuiditas dalam perekonomian dirasakan perlu ditambah, maka bank sentral akan membeli sejumlah obligasi negara di pasar sekunder, sehingga uang beredar bertambah, dan dilain pihak bila bank sentral ingin mengurangi likuiditas dalam perekonomian, bank sentral akan menjual sebagian obligasi negara yang berada dalam portofolio bank sentral.Dalam kasus Indonesia, sampai saat ini Bank Indonesia belum memiliki obligasi negara yang dapat dipakai untuk OMO. Walaupun pemerintah Indonesia telah menerbitkan obligasi, yang dimulai pada masa krisis untuk rekapitalisasi bank-bank yang bermasalah, tetapi pasar sekunder bagi obligasi negara baru pada tahap awal dan volume transaksi jual beli di pasar sekunder tersebut masih sedikit. Selama ini Bank Indonesia masih mempergunakan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk melaksanakan OMOs. Disamping menimbulkan beban pada Bank Indonesia, karena BI harus membayar bunga SBI yang cukup tinggi, jangka waktu SBI juga sangat pendek, umumnya 1 (satu) bulan, sehingga instrumen ini sebenarnya kurang memadai untuk dipakai dalam OMOs.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_fiskal
http://methaardiah.blogspot.com/2011/03/kebijakan-fiskal-dan-moneter-sektor.html
http://herdy92.wordpress.com/2012/04/13/kebijakan-pemerintah/