"Tahun ini kita ekspor ke Belanda sebanyak 18 ton," kata pemilik dan pengolah kopi PT Morning Glory Coffee International, Nathanael Charis, seusai memberikan penghargaan kepada lima petani dan pengolah kopi, di Bandung, Jawa Barat, Ahad (29/7).
Nathanael mengatakan, ekspor kopi Java Preanger yang dilakukan oleh perusahaannya dilakukan sejak 2009. "Tahun 2009, kami berhasil ekspor pertama kalinya itu ke Australia, sebanyak satu kontainer dan tahun 2011 juga akan diekspor ke Australia lagi, namun tidak jadi karena gagal panen akibat hujan," ujarnya.
Ia menuturkan, sejak berabad-abad yang lalu, kopi asal Jawa Barat tersebut selalu menjadi komoditas paling ditunggu di dunia. Hal ini, kata dia, terbukti ketika setiap kapal laut VOC berlabuh ke Pulau Jawa, kopi dari Priangan menjadi bawaan utamanya selain rempah-rempah dan lainnya.
"Dari sanalah kopi Priangan yang kemudian dikenal di Eropa dan seantero dunia sebagai Java Coffee atau Java Preanger Coffee," kata dia.
Menurut dia, kopi Priangan banyak disukai karena punya rasa yang disebut mild oleh para penikmat kopi. "Akan tetapi, pengiriman kopi Priangan tersebut terhenti pada 1924 karena masalah hama karat daun yang menyerang seluruh tanaman kopi di Jabar hingga musnah," kata Nael.
Ia menuturkan, pada 1997 setelah serangan hama karat daun, komoditas kopi kembali ditanam di Jawa Barat, namun memakai benih kopi jenis arabica dari Aceh Tengah. "Hingga saat itu orang mengenalnya dengan sebutan sebagai kopi Ateng, kependekan dari Aceh Tengah," kata dia.
Dikatakan Nathanael, karena kopi tersebut diekspor dalam bentuk raw material ke beberapa negara, sehingga terjadi kesenjangan ekonomi antara harga yang dibeli dari petani dan harga di pasaran internasional.
Berawal dari sanalah, lanjut dia, pihaknya selaku roaster coffee berupaya memperpendek jarak itu agar petani dan pengolah di Jawa Barat, bisa menikmati hasil yang lebih besar.
"Dan satu-satunya cara ialah membuat brand Java Preanger Coffee yang memiliki standar internasional," katanya.
Ia mengaku berusaha mendekati para petani dan pengolah kopi tradisional di Jabar karena ingin mengedukasi mereka agar produk kopinya bisa langsung diterima pasar internasional.
"Namun pada mulanya tidak dianggap. Mungkin melihat siapa saya. Tapi syukurnya, Dinas Perkebunan Provinsi Jabar mau memfasilitasi pertemuan itu di Garut pada tanggal 13 Mei 2008," katanya.
Pada pertemuan tersebut ada 150 petani dan pengolah kopi Jabar yang datang dan juga didatangkan pembeli dari Australia yaitu Toby Smith yang menjelaskan tentang pasar kopi internasional.(Ant/BEY)
Sumber : Metrotvnews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar