JellyPages.com

Sabtu, 27 April 2013

Bab 4 HUKUM PERIKATAN



A.Pengertian
Perikatan adalah suatu hubungan hukum  mengenai kekayaan harta benda antara dua orang yang memberi hak pada satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya,sedangkan orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu. Pihak yang berhak menuntut dinamakan pihak berpiutang atau kreditur, sedangkan pihak yang diwajibkan memenuhi tuntutan dinamakan pihak berhutang atau debitur. Adapun barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan prestasi, yang menurut undang-undang dapat berupa :
     a.    Menyerahkan suatu barang
     b.   Melakukan suatu perbuatan
     c.   Tidak melakukan suatu perbuatan
Apabila seorang berhutang tidak memenuhi kewajibannya, menurut bahasan hukum ia melakukan “wanprestasi” yang menyebabkan ia dapat digugat di depan hakim.

B. Macam-Macam Perikatan
         1.    Perikatan Bersyarat (voorwaardelijk)
Adalah suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian di kemudian hari, yang masih belum tentu akan atau tidak terjadi.
         2.    Perikatan yang digantungkan pada suatu ketetapan waktu (Tijdsbepaling)
Perbedaan antara suatu syarat dengan suatu ketetapan waktu adalah yang pertama berupa suatu kejadian atau peristiwa yang belum tentu atau tidak akan terlaksana, sedangkan yang kedua adalah suatu hal yang pasti akan datang,meskipun mungkin belum dapat ditentukan kapan datangnya, misalnya meninggalnya seseorang.
        3.    Perikatan yang boleh memilih (Alternatief)
Suatu perikatan dimana terdapat dua atau lebih macam prestasi, sedangkan kepada si berhutang diserahkan yang mana ia akan lakukan.misalnya ia boleh memilih apakah ia akan memberikan kuda atau mobilnya atau uang.
        4.    Perikatan Tanggung-menanggung (Hoofdelijk atau solidair)
Suatu perikatan dimana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu orang yang menghutangkan, atau sebaliknya.
        5.    Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi
Suatu perikatan dapat dibagi atau tidak, tergantung pada kemungkinan tidaknya membagi prestasi.pada hakekatnya tergantung pula dari kehendak atau maksud kedua belah pihak yang membuat perjanjian.

C.Syarat-Syarat Untuk Sahnya Perjanjian
Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:
      a.    Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
      b.   Kecapakan untuk membuat suatu perjanjian.
      c.   Suatu hal tertentu.
     d.   Suatu sebab yang halal.

D.Wanprestasi
Apabila siberhutang (debitur) tidak melakukan apa yang dijanjikan akan dilakukannya, maka dikatakan bahwa ia melakukan “wanprestasi”.
          Wanprestasi seorang debitur dapat berupa empat macam :
      a.    Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya.
      b.   Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan.
      c.   Melakukan apa yang dijanjikannya tetap terlambat.
      d.   Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Hukuman atau akibat-akibat yang diterima debitur yang lalai ada empat macam, yaitu :
        1.    Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dengan singkat dinamakan
             ganti rugi
        2.    Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan “pemecahan” perjanjian.
        3.    Peralihan risiko.
        4.    Membayar biaya perkara,kalau sampai diperkirakan di muka hakim.

E. Hapusnya Suatu Perikatan
Pasal 1381 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan sepuluh cara hapusnya suatu perikatan. Cara-cara tersebut:
             1.    Pembayaran.
             2.    Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan penitipan.
             3.    Pembaharuan hutang.
             4.     Perjumpaan hutang atau kompensasi.
             5.    Percampuran hutang.
             6.    Pembebasan hutang.
             7.    Musnahnya barang yang terhutang.
             8.    Kebatalan/pembatalan.
             9.    Berlakunya suatu syarat batal.
            10. Lewatnya waktu.

Sumber: Buku diktat Aspek Hukum Dalam Bisnis ; Universitas Gunadarma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar